Dialog 26 Nov 2009 Pencurian Listrik.
 

Jakarta, Dialog – Terdakwa Aguswandi Tandjung, penghuni apartemen ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat, kemarin diadili di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Dia didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Ketenaga Listrikan “atau pasal pencurian menurut KUHP,” ujar JPU Wahyudi Eko.

 
Aguswandi Tandjung diduga mencuri listrik pada sekitar 7-8 Agustus lalu ketika ia menyambung listrik dengan kabel kontak dari stop kontak yang ada di koridor apartement lantai 7.
 
Jaksa Wahyudi Eko juga menuduh terdakwa telah mengabaikan kewajibannya membayar tagihan servis apartemen sejak 2006 kepada PT Jakart Sinar Intertrade (JSI) selaku pengelola apartemen.
 
Sejak Aguswandi Tandjung mangkir dari kewajibannya tsb, kata Wahyudi, pihak pengelola sebenarnya telah 3 kali melayangkan surat somasi kepadanya. Namun, surat peringatan  itu tidak seklipun diindahkan. Karena itulah, pada 6 Agustus 2009 PT JSI kemudian memutus aliran listrik yang mengalir ke apartement Aguswandi.
 
Jaksa beralasan aliran listrik yang berada di koridor apartemen merupakan milik pengelola lantaran tangihan listrik itu selama ini dibayar oleh PT JSI untuk keperluan perawatan gedung. Akibat pengambilan listrik Jaksa menilai tindakan Aguswandi itu telah merugikan pihak PT JSI sebesar RP 250-375 ribu.
Dakwaan yang diajukan Jaksa itu, pada saat itu juga diajukan eksepsi atau keberatan oleh terdakwa. Aguswandi menilai dakwaan Jaksa itu tidak memiliki dasar hukum lantaran menyasar orang yang tidak tepat.
 
Menurutnya, orang yang didakwa sebenarnya adalah pemilik syah apartement itu sendiri. “instalasi listrik itu merupakan milik bersama,’ ujarnya.
 
Ia juga menambahkan legalitas laporan yang dibuat Uum Hartanto, karyawan PT JSI itu adalah orang yang melaporkan terdakwa kepolisi.
 
Menurut Aguswandi, Uum tidak memiliki kewenangan mengklaim kepemilikan instalasi listrik diapartement tsb. 
 
“Badan pengelola adalah orang yang dibayar penghuni untuk mengurus apartemen. Semua keperluan operasional mereka dibayar oleh penghuni,” ujarnya.
 
Menanggapi dakwaan Jaksa itu, penasehat hukum terdakwa OC Kaligis  dalam eksepsinya juga mengatakan bahwa berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang tentang Rumah Susun, kata dia, instalasi listrik merupakan bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain sebagai property bersama milik penghuni. “Bagaimana mungkin terdakwa mencuri dirumahnya sendiri,” ujarnya.
 
Kaligis juga membantah tudingan Jaksa yang menjelaskan bahwa Aguswandi mangkir dari kewajibannya membayar tagihan listrik. Pihak pengacara saat ini memiliki bukti pembayaran tagihan listrik sejak bulan Maret hingga September 2009.
 
Lantas, Kaligis pun mempertanyakan jumlah kerugian yang didakwakan terhadap kliennya. “Dakwaan kabur. Dari mana jumlah itu dihitung?” katanya. Pada siding itupun Kaligis mengajukan permohonan penganan penahanan kepada Majelis Hakim Ahmad Rivai.
 
Setelah Jaksa mengajukan keberatan atau eksepsi yang diajukan terdakwa dan penasehat hukumnya. Sidang yang akan datang Majelis Hakim mengambil sikap apa menerima eksepsi penasehat hukum atau melanjutkan siding untuk mendengarkan saksi-saksi. (Slm)